Tugas Review Film Umar Bin Khattab
Film ini mengisahkan sahabat Umar RA
yang sudah berusia 60 tahun sedang menjalankan ibadah haji. Di Padang Arafah
Umar berkhutbah, diantara isi khutbahnya sahabat Umar RA
mengatakan bahwa “untuk menjadi seorang yang beriman tidak
didapat dengan hanya berpikir dan berharap, tetapi dengan tindakan nyata”.
Dalam perjalanan, Umar teringat akan
masa mudanya. Masa muda sahabat Umar RA penuh dengan berbagai macam pengalaman
dan pelajaran hidup yang banyak sekali hikamahnya. Masa mudanya itulah yang
membentuk karakter beliau.
Pada saat nabi Muhammad diangkat menjadi Rosul, kaum Quraisy mengadakan pertemuan. Namun Abu Bakar tidak menghadiri pertemuan itu. Abu Bakar malah bertemu dengan Utsman bin Affan RA, saat itulah Abu Bakar RA mendapat cerita tentang Nabi Muhammad SAW yang telah resmi diangkat menjadi Rasullulah. Umar yang mulai mendengar tentang Nabi Muhammad langsung datang ke rumah Abu Hikam dan berdiskusi tentang beliau. Saat itulah dimulai kebencian kaum Quraisy terhadap Nabi Muhammad dan kaum Muslimin.
Para petinggi Quraisy terbelah opininya. Sebagian tidak peduli terhadap apapun yang dilakukan oleh nabi Muhammad, namun sebagian lagi sangat ingin menghentikannya. Atas saran Umar, akhirnya para petinggi Quraisy meminta Abu Thalib untuk berbicara kepada nabi Muhammad SAW agar berhenti menyebarkan agama Islam.
Pada masa itu, Abu Lahab yang sangat membenci nabi Muhammad dan ajarannya, yaitu agama Islam, meluapkan kebenciannya terhadap baginda Rasulullah dngan cara melempari beliau dengan kotoran. Istrinya yang juga sama-sama memiliki rasa benci terhadap nabi Muhammad menunjukkan rasa bencinya dengan cara meletakkan kayu2 bakar didepan pintu rumah nabi. Abu hamah yang mengetahui perbuatan mereka berdua (Abu Lahab dan Ummu jamil) lantas tak terima dan marah kepada suami istri tersebut.
Karna tak dapat menghentikan nabi Muhammad dalam menyebarkan agama Islam, Abu Jahal dan para petinggi Quraisy pun sangat marah. Abu Jahal mendatangi Umar kerumahnya dan membahas mengenai masalah tersebut hingga akhirnya terjadilah perdebatan dan perbedaan pendapat. Sejak saat itulah kaum Quraisy merasa bahwa nabi Muhammadlah penyebab perpecahan antara kaum Quraisy.
Karena kemarahannya, Abu Jahal mulai
bertindak. Ia menangkap Ayyash dan Salamah kemudian menyiksa keduanya. Setelah
kejadian itu Umar berpidato di depan kaum Quraisy, pidatonya tegas berisi akan
menentang Islam, dan apa yang akan dilakukan jika Muhammad terus melanjutkan
dakwahnya. Sementara Abu Bakar berusaha menenangkan umat Muslim untuk
tetap tenang dan tabah menghadapi cobaan tersebut.
Abu Bakar membebaskan budak Bilal dan Umayyah. Hal ini semakin membuat kaum Quraisy murka. Abu Jahal pun semakin menggila untuk memburu, memerangi, dan menyiksa kaum Muslimin untuk kembali menyembah berhala Latta dan Uzza. Di tempat lain, para sahabat nabi berkumpul, mereka berdiskusi dan membahas cara untuk menghadapi tekanan dari kaum Quraisy.
"Orang yang bisa mengikuti kata hatinya, dialah orang yang penuh
kehormatan", ujar Umar kepada Abdullah bin Suhail. Sesaat
setelah itu, Abdullah pun menemui ayahnya dan mengaku jika ia telah menjadi
seorang muslim, yang kemudian pada akhirnya, ia pun diusir oleh ayahnya. Nabi Muhammad SAW yang mengetahui
penderitaan kaum Muslimin, menyeru mereka untuk hijrah ke Abyssinia, sebuah
berita yang menggemparkan kaum Quraisy dan Umar sendiri.
Umar Bin Khattab Masuk Islam
Sebelum memeluk Islam, Umar bin Khattab sangat membenci Rasulullah SAW. Beliau dikenal sebagai sosok yang keras dan ditakuti kaum Quraisy. Suatu hari, dengan penuh amarah, ia membawa pedang untuk membunuh Nabi Muhammad. Abdullah an-Nahham al-‘Adawi kemudian mencegatnya di tengah jalan.
“Aku hendak membunuh Muhammad,” ujar Umar.
“Apakah engkau akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhroh jika engkau
membunuh Muhammad?” Tanya Abdullah.“Jangan-jangan engkau sudah murtad dan meninggalkan agama asal-mu?”
Tanya Umar marah.
“Maukah engkau ku tunjukkan yang lebih mengagetkan dari itu, wahai Umar!
Sesungguhnya saudara perempuanmu dan iparmu telah murtad dan telah meninggalkan
agamamu.”
Umar
langsung menuju ke rumah adiknya. Di dalam rumah, Fatimah saudara
perempuannya bersama sang suami sedang membaca Alquran. Umar sempat
mendengarnya. Ia langsung melabrak adik dan iparnya.“Apa yang kalian baca tadi?” tanyanya. Fatimah mencoba untuk
menutupi apa yang mereka lakukan.
“Wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran bukan berada pada agamamu?”
tanya ipar Umar.
Mendengar pertanyaan itu, Umar
semakin garang. Ditendangnya dan dipukulinya sang adik ipar dengan keras.
Fatimah pun ditampar hingga berdarah. Tetapi, Umar terdiam, ketika adiknya
mengucap dua kalimah syahadat di depannya. Hingga pada akhirnya, Hidayah Allah
mulai datang padanya. Umar lalu meminta adiknya untuk menunjukkan
lembaran Alquran yang mereka baca. Setelah mandi, Umar membacanya. Hatinya
bergetar saat membaca ayat Alquran.
“Ini adalah nama-nama yang indah nan suci,” ujarnya. Umar
pun mengakui kebenaran Islam. Ia bahkan menjadi pemimpin umat Islam, setelah
Rasulullah SAW wafat. Setelah memeluk islam, Umar bin khatab mengumumkan keislamannya
kepada orang-orang Quraisy sehingga memancing amarah mereka (Abu Jahal and the
geng).
Namun langkah Umar memeluk agama islam, membawa pengaruh
sangat besar dalam penyebaran Agama Islam. Sebagai salah satu orang yang
disegani dan memiliki otoritas di kalangan kaum Quraisy, Umar
mampu menjadi pelindung umat muslimin. Sehingga banyak kaum quraisy
yang memeluk Islam bersamanya.
Terjadi pemboikotan terhadap Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib oleh
orang-orang Kafir Quraisy yang melarang aktifitas perdagangan, perkawinan dll
kepada 2 bani tersebut yang menyebabkan penderitaan Rasulullah dan pengikutnya.
Tahun 12 Hijriah
Tahun 12 Hijriah, sekelompok orang dari Yatsrib datang ke Mekah, untuk menemui Rasul dan menghijrahkan diri untuk memeluk islam. Kelompok yang diketuai Asaad bin Zurarah dan Ubadah bin Samit juga memohon kepada Rasul agar mengutus utusan ke Yatsrib. Akhirnya Rasul pun mengutus Mus'ab bin Umair sebagai mubaligh di Yatsrib, untuk melepaskan kota ini dari kegelapan dan kekufuran.
Perang Badar
Rasulullah dan kaum muhajirin melakukan hijrah dari mekah ke madinah
yang kemudian membangun masjid. Pada episode ini, terjadi perang pertama dalam
sejarah islam, yang disebut perang badar. Inilah perlawanan pertama Kaum
Muslimin terhadap Kaum Quraisy, yang sebenarnya adalah saudara mereka sendiri,
setelah sebelumnya kaum muslimin tidak pernah membalas setiap tindakan
kekerasan dan penyiksaan yang mereka terima dari Kaum Quraisy.
Sebelum perang ini, kaum Muslim dan
penduduk Mekkah telah terlibat dalam beberapa kali konflik bersenjata skala
kecil antara akhir 623H sampai dengan awal 624H, dan konflik bersenjata
tersebut semakin lama semakin sering terjadi. Meskipun demikian,
Perang Badar adalah pertempuran skala besar pertama yang terjadi
antara kedua kekuatan itu. Muhammad saat itu sedang memimpin pasukan kecil
dalam usahanya melakukan pencegatan terhadap kafilah Quraisy yang baru saja
pulang dari Syam, ketika ia dikejutkan oleh keberadaan pasukan Quraisy yang
jauh lebih besar. Pasukan Muhammad yang sangat berdisiplin bergerak maju
terhadap posisi pertahanan lawan yang kuat, dan berhasil menghancurkan barisan
pertahanan Mekkah sekaligus menewaskan beberapa pemimpin penting Quraisy,
antara lain ialah Abu Jahal alias Amr bin Hisyam.
Kekalahan Quraisy dalam Perang Badar menyebabkan mereka bersumpah untuk membalas dendam, dan hal ini terjadi sekitar setahun kemudian dalam Pertempuran Uhud. Setelah kejadian perang Badar, seorang wanita yang juga membenci nabi Muhmmad, yaitu Hindun binti Utbah menjanjikan kemerdekaan kepada budak bernama Wahsyi bin Harb bila mampu membunuh paman Nabi Muhammad SAW yang memiliki julukan “Singa Allah” yakni, Hamzah bin Abdul Muthalib.
Kejadian lain selepas perang badar
yaitu perbedaan pendapat antara Umar bin Khattab dan Abu Bakar tentang apa yang
akan dilakukan kepada para tawanan perang. Oh iya, sebagai info bahwa Perang
Badar menyebabkan kematian kira-kira 70an tentara musyrikin (Quraisy) termasuk
juga Abu Jahal pemimpin mereka, 14 sahabat nabi yang mati syahid, dan 70an
tentara Quraisy yang di tawan. Nah perlakuan terhadap 70an tawanan inilah yang
menimbulkan perbedaan.
Umar menyarankan supaya mereka semua dibunuh.
Pendapat Umar disokong oleh Saad bin Muaz dan Abdullah bin Rawwahah. Sedangkan
Abu Bakar berpendapat supaya diberi peluang kepada mereka untuk hidup dengan
bayaran uang tebusan. Sebelum membuat keputusan, Baginda Rasulullah memuji keduanya . Umar
disifatkan seperti Nabi Nuh yang berdoa mohon kehancuran untuk kaumnya dan Abu
Bakr disifatkan bagaikan Nabi Ibrahim yang bermunajat kepada Allah.
Perang Uhud
Salah satu kaum Quraisy yang sangat ingin membalas dendam adalah seorang wanita bernama Hindun. Hindung ingin membalas dendam atas kematian ayahnya pada perang Badar 17 Ramdhan tahun kedua hijriyah. Ayah Hindun mati terbunuh oleh Hamzah bin Abdul Muthalib. Demi membalaskan dendamnya, Hindun menjanjikan kemerdekaan dan perhiasan kepada seorang budak bernama Wahsyi.
Sebuah tawaran yang sangat membuat Wahsyi senang, karena inilah cara dia untuk bebas dari perbudakan. Kaum muslim yang menyerang mengalami kekalahan. Hal ini disebabkan karena pasukan pemanah Kaum Muslim lengah dan tidak mengindahkan perintah Rasulullah, sehingga dimanfaatkan oleh pasukan Khalid bin Walid.
Sedangkan seorang budak yang di janjikan kemerdekaan; Wahsyi. Dengan semangat bertempur ingin membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib. Namun, ia hanya mamantau Hamzah dari kejauhan dan melemparkan tombak ketika Hamzah lengah dan sedang bertempur menghadapi para tentara Quraisy lainnya.
Kematian Abu Hamzah tentu membuat Rasulullah sangat sedih. Ketika melihat jasad Abu Hamzah yang dirobek dadanya dan diambil hatinya beliau sangat terharu akan kekejian itu, seraya bersabda ”Tak pernah aku menderita sebagaimana yang kurasakan saat ini. Dan tidak ada suasana apapun yang lebih menyakitkan diriku dari pada suasana sekarang ini.”
Perang Khandakh
Perang ini merupakan salah satu ujian atas keimanan kaum muslimin. Pasukan muslim yang diriwayatkan ketika itu hanya berjumlah 2000-3000an menghadapi pasukan gabungan Kaum Quraisy dengan Kaum Yahudi bani Nadir (al-ahzaab) yang berjumlah sekitar 10ribuan orang.
Namun strategi yang diterapkan Nabi Muhammad atas saran Salman al-Farisi yaitu dengan menggali parit mampu menahan serangan pasukan gabungan. Sehinggi minim terjadi kontak kecuali dengan anak panah. Tapi Ada sejumlah pasukan berkuda dari Quraisy yang berhasil melewati parit, salah satunya Amr bin Abdi Wadd yang kemudian melakukan perang tanding dengan Ali bin Abi Thalib.
Salah satu kaum Quraisy yang sangat ingin membalas dendam adalah seorang wanita bernama Hindun. Hindung ingin membalas dendam atas kematian ayahnya pada perang Badar 17 Ramdhan tahun kedua hijriyah. Ayah Hindun mati terbunuh oleh Hamzah bin Abdul Muthalib. Demi membalaskan dendamnya, Hindun menjanjikan kemerdekaan dan perhiasan kepada seorang budak bernama Wahsyi.
Sebuah tawaran yang sangat membuat Wahsyi senang, karena inilah cara dia untuk bebas dari perbudakan. Kaum muslim yang menyerang mengalami kekalahan. Hal ini disebabkan karena pasukan pemanah Kaum Muslim lengah dan tidak mengindahkan perintah Rasulullah, sehingga dimanfaatkan oleh pasukan Khalid bin Walid.
Sedangkan seorang budak yang di janjikan kemerdekaan; Wahsyi. Dengan semangat bertempur ingin membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib. Namun, ia hanya mamantau Hamzah dari kejauhan dan melemparkan tombak ketika Hamzah lengah dan sedang bertempur menghadapi para tentara Quraisy lainnya.
Kematian Abu Hamzah tentu membuat Rasulullah sangat sedih. Ketika melihat jasad Abu Hamzah yang dirobek dadanya dan diambil hatinya beliau sangat terharu akan kekejian itu, seraya bersabda ”Tak pernah aku menderita sebagaimana yang kurasakan saat ini. Dan tidak ada suasana apapun yang lebih menyakitkan diriku dari pada suasana sekarang ini.”
Perang Khandakh
Perang ini merupakan salah satu ujian atas keimanan kaum muslimin. Pasukan muslim yang diriwayatkan ketika itu hanya berjumlah 2000-3000an menghadapi pasukan gabungan Kaum Quraisy dengan Kaum Yahudi bani Nadir (al-ahzaab) yang berjumlah sekitar 10ribuan orang.
Namun strategi yang diterapkan Nabi Muhammad atas saran Salman al-Farisi yaitu dengan menggali parit mampu menahan serangan pasukan gabungan. Sehinggi minim terjadi kontak kecuali dengan anak panah. Tapi Ada sejumlah pasukan berkuda dari Quraisy yang berhasil melewati parit, salah satunya Amr bin Abdi Wadd yang kemudian melakukan perang tanding dengan Ali bin Abi Thalib.
Perjanjian Hudaybiyah
Perjanjian damai antara kaum Quraisy dan Kaum Muslimin.
Berikut ringkasan isi Perjanjian Hudaibiyah:
1. Tidak ada peperangan (saling menyerang) antara Kaum Muslimin dan Penduduk Mekah (Quraisy) selama 10 tahun
2. Kaum Muslimin diperbolehkan masuk ke Mekah dan melaksanakan umrah pada tahun depan dan diperbolehkan membawa senjata (pedang) tapi harus berada di dalam sarungnya
3. Siapa saja yang datang ke Madinah dari penduduk Mekah harus dikembalikan ke Mekah
4. Siapa yang datang ke Mekah dari penduduk Madinah (muslim) tidak boleh dikembalikan ke Madinah
5. Kesepakatan ini disetujui kedua belah pihak dan tidak boleh ada pengkhianatan serta pelanggaran.
Dalam perjajian ini juga terdapat kesepakatan bahwa bani Khuza’ah bersama Rasulullah sedangkan Bani Bakr berada di pihak Quraisy.
Perjanjian yang pada mulannya, isinya banyak tidak disukai oleh sahabat-sahabat Rasulullah ini pada akhirnya malah membawa kemajuan yang pesat bagi perkembangan Islam, karena perjanjian hudaibiyah kemudian menjadi satu kemenangan, karena kaum muslimin memiliki kebebasan dalam mendakwahkan Islam ke seluruh kabilah Arab, dan banyak sekali orang-orang yang masuk islam karenanya.
Episode ini juga menampilkan kembali raja negus, kemudian juga umrah Rasulullah bersama kaum muslimin.
Fatkhu Mekah.
Khalid bin Walid, seorang panglima perang yang menjadi pemimpin
kala memanfaatkan kelengahan umat islam pada Perang Uhud dan Amr bin Assh
seseorang yang pandai bernegosiasi dan berdiplomat dibuka pintu hatinya oleh
Allah SWT untuk memeluk islam.
Berhubungan dengan Perjanjian Hudaibiyah adanya pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang kafir Mekkah dengan membunuh Watir (salah satu orang bani Khuza’ah). Hal ini secara jelas menunjukkan bahwa Mekkah melanggar Perjanjian Hudaibiyah, karena salah satu isi dari perjanjian itu adalah Bani Khuza’ah merupakan sekutu Muslim dan harus dilindungi.
Pelanggaran ini memicu kejadian Fathu Mekkah, yaitu pembebasan Mekkah dari kemusyrikan kepada Allah yang terjadi pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke 8 Hijriyah, Rasulullah dan 10.000 pasukan muslim bergerak dari Madinah menuju Mekkah, kemudian dapat menguasai Mekkah dan menghancurkan semua berhala (Latta & Uzza) di seluruh kota mekkah.
Bilal adalah orang pertama yang mengumandangkan adzan dengan lantang dan merdu di atas Ka’bah.
Wafatnya Rasulullah SAW
Penduduk mekkah yang semula memiliki kepercayaan bahwa Latta dan Udza adalah tuhan mereka kini telah banyak yang memeluk islam. Hindun, Suhail bin Amr (Ayah Abu Jandal dan Abdullah), Wahsyi (budak pembunuh Hamzah) dan petinggi Quraisy lainnya juga memeluk islam. Pada episode ini juga digambarkan pesan Rasulullah SAW saat haji wada’ bahwa agama Islam telah sempurna.
Hal ini lah yang membuat para sahabat bersedih. Karena jika islam telah sempurna, maka akan tiba saatnya perpisahan dengan Rasulullah.
Kesedihan semakin menyelemuti para sahabat dan para penduduk Mekkah ketika Rasulullah SAW sakit dan harus Abu Bakar yang mengimami sholat Ashar (digantikan Umar bin Khattab r.a) dan Magrib. Namun Kondisi Rasulullah SAW yang membaik sedikit membuat Abu Bakar lega, namun akhirnya Rasulullah SAW benar-benar wafat di rumah sayyidah Aisyah RA.
Umar bin Khattab pun tidak percaya bahwa Rasulullah telah wafat, sampai akhirnya Abu Bakar berkata: ”Wahai manusia, barang siapa yang menyembah Muhammad, sungguh dia sudah meninggal dunia. Dan barang siapa yang menyembah Tuhan Muhammad, maka DIA Hidup dan tak pernah mati”.
Allah SWT berfirman:
“Muhammad tidak lain hanya seorang Rasul, dan sungguh sebelumnya sudah ada beberapa Rasul. Apakah jika dia wafat atau terbunuh, adakah kamu menjadi kafir. (QS.3 Al Imran:144)”.
Mendengar itu, Umar bin Khattab pun menangis dan tak kuat menahan badannya untuk berdiri.
Berhubungan dengan Perjanjian Hudaibiyah adanya pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang kafir Mekkah dengan membunuh Watir (salah satu orang bani Khuza’ah). Hal ini secara jelas menunjukkan bahwa Mekkah melanggar Perjanjian Hudaibiyah, karena salah satu isi dari perjanjian itu adalah Bani Khuza’ah merupakan sekutu Muslim dan harus dilindungi.
Pelanggaran ini memicu kejadian Fathu Mekkah, yaitu pembebasan Mekkah dari kemusyrikan kepada Allah yang terjadi pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke 8 Hijriyah, Rasulullah dan 10.000 pasukan muslim bergerak dari Madinah menuju Mekkah, kemudian dapat menguasai Mekkah dan menghancurkan semua berhala (Latta & Uzza) di seluruh kota mekkah.
Bilal adalah orang pertama yang mengumandangkan adzan dengan lantang dan merdu di atas Ka’bah.
Wafatnya Rasulullah SAW
Penduduk mekkah yang semula memiliki kepercayaan bahwa Latta dan Udza adalah tuhan mereka kini telah banyak yang memeluk islam. Hindun, Suhail bin Amr (Ayah Abu Jandal dan Abdullah), Wahsyi (budak pembunuh Hamzah) dan petinggi Quraisy lainnya juga memeluk islam. Pada episode ini juga digambarkan pesan Rasulullah SAW saat haji wada’ bahwa agama Islam telah sempurna.
Hal ini lah yang membuat para sahabat bersedih. Karena jika islam telah sempurna, maka akan tiba saatnya perpisahan dengan Rasulullah.
Kesedihan semakin menyelemuti para sahabat dan para penduduk Mekkah ketika Rasulullah SAW sakit dan harus Abu Bakar yang mengimami sholat Ashar (digantikan Umar bin Khattab r.a) dan Magrib. Namun Kondisi Rasulullah SAW yang membaik sedikit membuat Abu Bakar lega, namun akhirnya Rasulullah SAW benar-benar wafat di rumah sayyidah Aisyah RA.
Umar bin Khattab pun tidak percaya bahwa Rasulullah telah wafat, sampai akhirnya Abu Bakar berkata: ”Wahai manusia, barang siapa yang menyembah Muhammad, sungguh dia sudah meninggal dunia. Dan barang siapa yang menyembah Tuhan Muhammad, maka DIA Hidup dan tak pernah mati”.
Allah SWT berfirman:
“Muhammad tidak lain hanya seorang Rasul, dan sungguh sebelumnya sudah ada beberapa Rasul. Apakah jika dia wafat atau terbunuh, adakah kamu menjadi kafir. (QS.3 Al Imran:144)”.
Mendengar itu, Umar bin Khattab pun menangis dan tak kuat menahan badannya untuk berdiri.
Comments
Post a Comment